Attention Deficit Disorder (ADD) dan Attention Deficit-Hyperactivity Disorder (ADHD)

1. Apa yang dimaksud dengan ADHD 

ADHD atau ADD adalah gangguan perkembangan yang menyebabkan seorang anak sulit mempertahankan/memusatkan perhatian, mengatur tingkat aktivitas/hiperaktif dan memiliki perilaku impulsif, sehingga dapat berdampak pada prestasi anak di sekolah. ADHD/ADD bersifat kronis dan dapat menimbulkan disfungsi kognitif yang tidak sesuai dengan perkembangan usia anak.

Perbedaan Antara ADD dan ADHD

Baik ADD dan ADHD adalah kelainan perkembangan neurobiologis yang mempengaruhi bagian otak yang mengatur perhatian, perilaku, dan fokus. Istilah ADD digunakan sampai tahun 1994, saat ini istilah ADD tidak lagi digunakan. ADD telah diidentifikasi sebagai subtipe dari ADHD. Berbeda dengan kondisi ADHD, ADD tidak ditandai oleh hiperaktif

2. Gejala ADHD

Gejala utama ADHD adalah sulit memusatkan perhatian, serta berperilaku impulsif dan hiperaktif. Penderita tidak bisa diam dan selalu ingin bergerak. Gejala ADHD umumnya muncul pada anak-anak sebelum usia 12 tahun. Namun pada banyak kasus, gejala ADHD sudah dapat terlihat sejak anak berusia 3 tahun. ADHD yang terjadi pada anak-anak dapat berlangsung  hingga dewasa.

2.1. Gejala inatensi, misalnya:

  • Sulit memperhatikan detail dan ceroboh.
  • Sulit fokus dalam jangka waktu panjang saat mengerjakan tugas atau bermain.
  • Tampak tidak mendengarkan saat diajak berbicara.
  • Sulit memahami instruksi dan sulit menyelesaikan tugas.
  • Sulit mengorganisasi tugas.
  • Sering kali menghindari atau tidak menyukai tugas yang membutuhkan fokus berkepanjangan. Contohnya: tugas sekolah atau PR.
  • Sering kehilangan barang yang diperlukan untuk mengerjakan tugas.
  • Mudah teralihkan perhatiannya.
  • Mudah lupa.  

2.2. Gejala hiperaktivitas, misalnya:

  • Sering menggerakkan tangan dan kaki, serta tampak gelisah jika duduk.
  • Sering meninggalkan tempat duduk dalam kelas.
  • Tampak berlari atau memanjat secara berlebihan dan pada situasi yang kurang tepat.
  • Sulit bermain atau melakukan aktivitas secara hening.
  • Sering kali bicara secara berlebihan.

2.3. Gejala impulsif, misalnya:

  • Sering memberikan jawaban sebelum pertanyaan selesai.
  • Sulit menunggu untuk bergantian.
  • Sering menginterupsi, karena gejala inatensi,
  • Sulit memperhatikan detail dan ceroboh.
  • Sulit fokus dalam jangka waktu panjang dalam mengerjakan tugas atau bermain.
  • Tampak tidak mendengarkan saat diajak berbicara.
  • Sulit memahami instruksi dan sulit menyelesaikan tugas.
  • Sulit mengorganisasi tugas.
  • Sering kali menghindari atau tidak menyukai tugas yang membutuhkan fokus berkepanjangan. Contohnya: tugas sekolah atau PR.
  • Sering kehilangan barang yang diperlukan untuk mengerjakan tugas.
  • Mudah teralihkan perhatiannya.
  • Mudah lupa. 

3. Penyebab dan Faktor Risiko ADHD

Penyebab ADHD belum diketahui secara pasti. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko anak terkena ADHD. Faktor risiko ini meliputi faktor genetik dan lingkungan. ADHD juga diduga berkaitan dengan gangguan pada pola aliran listrik otak atau   gelombang listrik otak . Ada juga anggapan bahwa gangguan perilaku hiperaktif pada anak disebabkan oleh  konsumsi gula berlebihan. Namun, hal ini belum terbukti benar.

4. Diagnosis ADHD

Diagnosis ADHD dilakukan melalui kerja sama berbagai pihak, dokter anak, psikiatri anak dan orang tua, dan pihak sekolah. Proses diagnosa melibatkan wawancara, baik dengan anak, orang tua, pengasuh dan guru.

Dokter anak juga akan melakukan pemeriksaan fisik dan penunjang untuk mencari penyebab lain yang dapat menimbulkan gejala yang mirip dengan ADHD.

Gangguan ini tampaknya sulit untuk dipahami. Tak jarang, orang menganggap ADHD sama dengan autisme. Padahal, keduanya merupakan hal yang berbeda.

Diagnosis ADHD tidak memerlukan berbagai tes laboratorium yang rumit. Diagnosis ADHD cukup dilakukan mengamati perilaku anak Walaupun demikian, diagnosis ADHD bukan berarti mudah. Salah satu panduan kriteria diagnosis yang banyak digunakan dokter spesialis kesehatan jiwa dan dokter spesialis anak dalam mendiagnosis ADHD adalah American Psychiatric Association’s Diagnostic and Statistical Manual  edisi V (DSM-5).

5. Penatalaksanaan ADHD

Penatalaksanaan ADHD bersifat multidisiplin yang melibatkan dokter spesialis anak, psikiater anak, terapis okupasi, fisioterapis, terapis wicara dan pekerja sosial. Tatalaksana dapat berupa pemberian obat-obatan dan psikoterapi. Selain penderita, orang tua, keluarga, pengasuh, dan guru di sekolah juga berperan dalam membimbing dan menghadapi anak dengan.ADHD. ADD/ADHD diperlakukan dengan cara yang sama dengan bantuan terapi perilaku kognitif. Walaupun ADHD tidak bisa disembuhkan sepenuhnya, pengobatan yang diberikan dapat mengurangi gejala ADHD dan mendukung anak untuk menjalani hidup normal.

6. Kenali ADHD sejak dini

ADHD diduga terjadi akibat gabungan interaksi genetik dan lingkungan luar, misalnya ibu dengan kehamilannya yang terpapar dengan nikotin, Bayi berat lahir rendah (BBLR) atau paparan terhadap timbal racun logam berat lainnya.

Memantau perkembangan anak sejak dini dan sebelum usia 5 tahun merupakan cara yang sederhana, Yayasan Suryakanti mempunyai alat DDTK (Deteksi tumbuh kembang anak) merupakan cara sederhana untuk memantau perkembangan anak dan mengenai penyakit sejak dini,  Anak ADHD usia perkembangan (developmental  age) bisa lebih lambat atau lebih cepat dari usia sebenarnya (chronological age).

Dulu dianggap bahwa penyakit ADHD merupakan penyakit hanya pada anak, namun sekarang diketahui bahwa penyakit ini berlanjut sampai dewasa 50–65% dari penderita dewasa.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


id_IDIndonesian